Belajar dari Isaac Newton Saat Pandemi Melanda
![]() |
| Sir Isaac Newton (1642 - 1727) |
Dalam buku The 100, A
Rangking of
The Most Influential People in History karya
Michael Hart, tertulis peringkat dua orang paling berpengaruh di dunia di dunia
adalah Isaac Newton. Siapa yang tidak kenal Newton? Saat jenjang sekolah
menengah, nama itu begitu sering ada di buku Fisika kita. Bahkan sejak
sekolah dasar, satuan Newton sudah kita pelajari pada pelajaran IPA Bab Gaya di
kelas 5. Dikenal sebagai matematikawan sekaligus fisikawan, karya Newton diakui
memiliki kontribusi tinggi di bidang ilmu pengetahuan alam sampai saat ini.
Penemuannya yang sangat berpengaruh di dunia adalah teleskop modern,
analisis spektral warna, hukum gravitasi, serta kalkulus. Namun,
tahukah kita kalau Newton mengalami masa emasnya saat pandemi melanda kota
London di tahun ia menjadi mahasiswa?
Seperti dilansir dari https://www.britainexpress.com/, pada tahun 1665-1666
wabah besar melanda kota London, Inggris, yang dikenal sebagai Great Plague of London.
Pandemi ini merupakan salah satu tragedi sejarah yang membunuh hampir 20% warga London saat itu. Kejadian
ini memberikan ketakutan besar bagi penduduk London. Karena
ganasnya wabah London Plague, maka seluruh sekolah, termasuk universitas
ditutup. Seluruh mahasiswa disuruh kembali ke kampung halaman
masing-masing. Newton pulang ke pertanian keluarganya
di Woolsthrope Manor.
Hal pertama yang dilakukannya di desa adalah meneruskan tugas Matematikanya
berupa masalah integral dan diferensial yang belum
selesai. Hasil ketekunannya menyelesaikan tugas tersebut dalam
berlembar-lembar tulisan menjadi cikal bakal penemuan kalkulus. Selanjutnya, Newton melakukan
percobaan dengan mengebor lubang kecil di jendela kamar
tidurnya. Ia memasang prisma untuk mencegat
berkas cahaya yang datang, kemudian menempatkan prisma kedua di
jalur sinar yang dibiaskan itu. Panorama yang dihasilkan memungkinkan
Newton untuk menghitung sudut dari setiap warna yang
dibiaskan. Iapun membuktikan bahwa aliran warna tidak
berubah. Penemuan yang
fenomenal, gaya gravitasi, dialami saat Newton mengamati buah apel yang jatuh dari pohonnya. Ia merenung dan bertanya mengapa buah itu jatuh
lurus ke tanah. Newton mengandaikan bahwa segala sesuatu yang ada tertarik
pada segala sesuatu yang lain dan daya tarik ini adalah kekuatan gravitasi yang
mengikat alam semesta bersama.
![]() |
| Newton melakukan percobaan spektrum cahaya |
Tiga penemuan tersebut diistilahkan merupakan tahun emas bagi Newton. Ia mengatakan:“For in those days I was in the prime of my age for invention and minded Mathematics & Philosophy more than at any time since." Dalam satu tahun menjalani karantina di desa kelahirannya, Newton menemukan berbagai pondasi penting dalam bidang Matematika dan Sains. Tahun berikutnya saat wabah sudah berakhir dan ia kembali melanjutkan kuliah, Newton menjadi asisten Profesor. Dua tahun kemudian dengan bekal penelitian selama masa karantina, Newton meraih gelar Profesornya!
Sebagai pendidik, beberapa hal yang dapat kita tiru dari Newton di masa pandemi adalah: Pertama, tulislah masalah-masalah yang tidak dapat kita selesaikan. Kelak, di waktu luang kita dapat memikirkan jalan keluarnya. Kemampuan menuliskan masalah menuntut kerja otak untuk memanggil memori dan mensintesa sebuah masalah. Kedua, teruslah berpikir kritis. Pendidik yang menjalankan fungsi berpikir kritis, maka otaknya akan selalu bekerja. Ia tidak akan menyerah dengan kesulitan mengajar yang ia alami saat mengajar daring. Ketiga, hasilkan karya. Betapa banyaknya pelatihan menulis yang langsung diampu oleh para pakar dan tersebar dalam berbagai platform. Salah satu lembaga yang mengadakan pelatihan menulis adalah AISEI yang dapat dicek di laman www.aisei.id Saat seperti inilah pendidik memiliki kesempatan untuk membuat blog dan buku sebagai hasil dari proses berpikir dan kontemplasinya. Keempat, tingkatkan pengetahuan dan prestasi saat pandemi. Tak terhitung banyaknya webinar, diklat, bahkan lomba daring yang diadakan selama pandemi COVID 19 ini terjadi. Sungguh rugi jika kita hanya menjadi penonton.
![]() |
| Piagam Penghargaan medali perunggu dan predikat distinction |
Saya bersyukur beberapa kali dapat mengikuti lomba guru daring yang informasinya saya dapatkan dari berbagai media sosial. Tentu saja persiapan lomba dilakukan semaksimal mungkin di sela-sela waktu mengajar. Tak percaya rasanya di salah satu lomba nasional guru Matematika SD, saya mendapatkan medali perunggu. Selain itu, saya juga mendorong siswa saya untuk mengikuti berbagai kompetensi siswa secara daring. Mata ini berkaca-kaca melihat satu demi satu piagam mereka hasilkan. Sungguh, bukan saya tergila-gila pada selembar piagam. Namun kemauan siswa saya untuk mau mengikuti kompetisi dengan serius itulah yang membuat saya terharu. Mereka tetap berprestasi di tengah pandemi. Luar biasa!
![]() |
| Piagam siswa di ajang kompetisi nasional |
Karena itulah, saat sebagian pendidik mengeluh dengan banyak hal melelahkan yang terjadi di pandemi ini, jadikan diri kita sebagai pendidik yang berpikiran jauh ke depan. Jangan sia-siakan masa luang ini dengan hal yang tidak bermanfaat. Jadikan masa ini sebagai waktu hibernasi bagi kita untuk belajar lebih banyak dibanding waktu-waktu sibuk kita yang lalu. Seperti sebuah quote dari Newton, “Apa yang kita ketahui adalah setetes air, apa yang tidak kita ketahui adalah lautan”. Selamat merubah masa muram pandemi menjadi masa produktif dengan karya yang menginspirasi!
Tangerang, 17 Januari 2021
Lintang Nawangsari adalah seorang guru yang sudah mengajar selama 20 tahun di SDIT Asy-Syukriyyah Kota Tangerang. Pernah menjadi koordinator Siswa Berprestasi selama 5 tahun sekaligus pembimbing olimpiade Matematika di sekolah sampai sekarang. Selain menyukai dunia Matematika juga menyukai dunia tulis menulis. Tiga antologi karyanya yang sudah terbit di tahun 2000 adalah fiksi mini “Kata-Kata Nyaris Kosong Saat Genting Melanda Kota”, tulisan inspirasi “The Meaningful True Stories” antologi cerpen “Cinta bersemi di Masa Pandemi”, antologi quote “Breakfast Your Heart”. Sebuah cerpennya berjudul Lolongan Abadi pernah dimuat di harian Bangka Pos Agustus 2020. Penulis dapat dihubungi di lintang7677@gmail.com dan nomor telepon 089612884098








Comments
Post a Comment