My Journey as A Teacher

TERSESAT DI JALAN YANG BENAR


    Selepas SMA, saya menempuh pendidikan D3 di Politeknik UI (sekarang Politeknik Negeri Jakarta). Jujur, saya daftar ke Poltek karena gagal di UMPTN. Bapak bilang hanya sanggup membiayai kalau saya kuliah di Negeri. Waktu itu saya mendaftar UMPTN tanpa ilmu. Bayangin aja, pilihan pertama Kedokteran UNAIR, pilihan kedua Sastra Inggris UI, dan pilihan terakhir di ilmu kelautan UNDIP. Dan saya tidak tahu sama sekali berapa passing grade masing-masing fakultas itu. Benar-benar gabut!  Jelaslah saya gagal. Apalagi saya memilih IPA Campuran, padahal saya mengambil jurusan Biologi di SMA.  Ternyata untuk masuk ke Poltek UIpun sama dengan UMPTN. Pesertanya banyak dan kami melakukan tes tulis di Stadion Senayan.

    Saat kuliah di Poltek, kami masuk jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Sesuai jam kerja para pekerja pada umumnya, sesuai dengan tujuan pendidikan di Poltek, menciptakan tenaga kerja terlatih di bidang industri. Mata kuliahnya berlangsung full setiap hari dari Senin sampai Jumat. Teman-teman kuliahnya tidak berganti sampai lulus. Saya mengambil program studi penerbitan, jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Perkuliahannya seputar ilmu pernaskahan, penyuntingan, desain grafis, teknik grafika dasar, dan fotografi. Untuk menambah uang saku maka saya mengambil orderan cetak seperti kartu nama, stiker, dan undangan. Saat dosen tidak masuk atau selepas belajar, saya segera mengerjakan orderan cetak di Poncol, Senen, menggunakan KRL. 

    Selepas D3 saya ditawari pekerjaan oleh teman untuk menjadi tenaga administrasi di sebuah perusahaan ekspor di daerah Tanah Abang. Saat itu nilai rupiah jatuh, sehingga banyak eksportir asing datang ke Indonesia. Bos saya adalah orang Guinea, Afrika. Membuat dokumen ekspor seperti invoice dan packing list  untuk barang yang dikirim dengan container adalah tugas saya. Sampai saya memutuskan berhenti karena jarak pekerjaan cukup jauh dari rumah saya di Tangerang.

    Saya meneruskan kuliah S1 setelah mendapat informasi ada jurusan yang buka di UI dengan syarat minimal D3. Itulah jurusan Filsafat yang oleh sebagian orang dianggap aneh. Namun dengan semangat mencari ilmu saya mendaftar dan Alhamdulillah lolos. Disana saya dilatih berpikir kritis dan banyak membaca. Jika di Poltek saya terbiasa dengan ilmu terapan dan praktek,  maka di Filsafat saya harus banyak membaca dan berdiskusi. Saya cukup terbengong-bengong dengan buku yang dibaca teman-teman saya. Ilmu saya jauh tertinggal disini. Salah satu dosen favorit saya adalah Rocky Gerung yang mengajar Filsafat Politik. Sebagian orang bilang kuliah Filsafat bisa membuat kita gila. Namun saya justru dilatih mencari sesuatu di balik fenomena yang ada. Sehingga, daya pikir dan daya kritis terus terasah disini. Perkuliahan saya rampungkan tahun 2004. Saat tahun kedua kuliah, saya mendaftar menjadi guru honor di sebuah SD Islam.

    Pelajaran Al-Quran adalah pelajaran yang saya ajar saat itu. Kebetulan saya mengambil kursus tahsin dan tanfidz saat kuliah. Sebelum mengajar, saya diberikan tes akademik dan tes mikro teaching oleh panitia penerimaan guru saat itu. Jauh sebelumnya, saya sempat menjadi pengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) sehingga sedikitnya sudah terbiasa mengajar anak SD. Saya juga sempat mengajar privat dari mulai TK sampai SMP. Pelajaran yang saya pegang saat itu ialah Matematika. Karena pelajaran itu yang banyak dibutuhkan gurunya. Jujur, saya mengajar sebisa-bisanya saja. Banyak materi yang tidak saya pahami juga, sebetulnya. Karena itu, profesi ini hanya sebentar saya jalankan. Namun dengan mengajar privat saya dapat memahami karakter seorang murid secara mendalam. Ada murid les saya di jenjang SMP yang lebih banyak bercerita daripada belajar. Ternyata orangtuanya jarang mendengarkan anaknya, sehingga ia justru sering curhat ke saya.

    Tahun pertama mengajar adalah tahun penuh kenangan. Saya harus mengajar di tiga level kelas, yaitu kelas 1, 4, dan 6. Suatu hari saat mengajar saya mendapati anak-anak murid saya di kelas 1 tidak bisa diatur. Dari arah pojok ada yang mengganggu temannya, dari arah depan ada yang berteriak-teriak. Beberapa anak bergerombol dan membuat keributan. Kondisi ini sudah di luar kesabaran saya! Akhirnya saya menangis dan meninggalkan mereka. Anak-anak langsung terdiam saat saya keluar kelas. Dengan linangan air mata saya menuju ruang guru. Teman-teman terlihat bingung melihat saya masuk dengan berurai air mata.

    Tahun-tahun berikutnya saya bisa bangkit dan tegar kembali dalam mengajar. Alhamdulillah,  semua kesulitan dalam kelas dapat saya atasi dengan banyak bersabar dan belajar. Anak-anak yang dulu  membuat saya menangis itu sekarang sudah selesai kuliahnya. Tahun demi tahun berjalan, saya mulai diberi kepercayaan menemani anak-anak yang akan mengikuti lomba. Mulai dari lomba menyanyi sampai lomba Matematika. Disitulah saya mengasah passion saya, Matematika. Akhirnya sampai sekarang saya masih mengajar Matematika di sekolah ini, SDIT ASy-Syukriyyah. Tempat mengabdi selama 20 tahun and still count.

    Setelah mengantar lomba, saya mulai tertarik mengerjakan soal-soal olimpiade Matematika. Belajar otodidak saya lakukan saat malam tiba, setelah tugas mengurus anak di rumah beres. Saya bahkan memberanikan diri mengikuti lomba Matematika guru. Hasilnya masih jauh dari harapan. Peringkat saya masih di bawah. Namun saya tidak mundur. Saya terus berlatih dan berlatih.  Sampai akhirnya saya mengikuti seleksi guru pengajar di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Jika lulus maka saya dapat mengajar murid KPM di hari Sabtu siang. Alhamdulillah bersama seorang guru satu sekolah, saya lulus. Selama 4 bulan saya mengendarai motor membelah Tangerang-Bogor untuk mengajar di KPM setiap Sabtu. Kebetulan KBM di sekolah saya efektif dari Senin-Jumat. Hari Sabtu adalah hari rapat.  Jadi, jam 11 saya sudah bersiap-siap berangkat dari sekolah. Disana saya bertemu anak-anak hebat yang memiliki minat sangat tinggi pada Matematika. Setiap kelompok akan bergantian menuliskan jawaban soal yang dikerjakan secara kelompok. Karena Saat itu saya sedang hamil anak ketiga, maka saya mengajukan cuti pada bulan ketiga saya mengajar atau saat usia kandungan saya menjelang 7 bulan. Perjalanan Tangerang-Bogor-Tangerang dengan motor cukup melelahkan bagi ibu hamil.

    Sekolah kemudian mempercayakan saya mengajar anak-anak yang akan mengikuti lomba-lomba. Sayapun sekaligus diangkat sebagai Koordinator Siswa Berprestasi di Sekolah. Kalau dibilang kaget, ya pastilah. Namun saya yakin saya dapat mengemban amanah tersebut jika saya banyak belajar dan all out menangani siswa. Alhamdulillah, berkat kerjasama tim dengan beberapa guru pengajar siswa berprestasi, siswa-siswa kami menorehkan berbagai prestasi baik tingkat kecamatan, kota, provinsi, nasional, hingga internasional.  Pencapaian ini selalu membuat kami bersyukur. Seungguhnya, anak-anak berbakat membutuhkan pembinaan yang tepat dan terarah. 

    Pada tahun 2015 saya mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Tak disangka, nilai saya cukup baik yaitu 83,3 sehingga saya dapat terpilih mengikuti Diklat Instruktur Nasional Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) tahun 2016. Diklat diadakan selama tujuh hari di sebuah hotel di Puncak. Beberapa teman saya satu sekolah juga mengikuti diklat ini. Selanjutnya Saya kembali terpilih mengikuti Diklat Penyegaran IN, yaitu peserta terpilih dari diklat sebelumnya. Dari Kota Tangerang hanya terpilih 12 orang dari ratusan guru yang mengikuti Diklat sebelumnya. Setelah selesai diklat kami diwajibkan mengisi diklat PKB di tempat kami masing-masing.  Pengalaman diklat menjadikan saya lebih kaya. Senang sekali dapat menambah ilmu bersama nara sumber hebat dan guru-guru hebat satu provinsi.

Saat menjadi mentor diklat PKB di
SDN Juru Mudi 1 Kota Tangerang 


    Minat saya di bidang Matematika membuat saya rajin mengikuti even lomba guru Matematika. Tercatat tiga kali saya lolos ke final nasional Olimpiade Guru Matematika (OGM) yang diadakan oleh KPM. Tahun 2019 saya mengikuti seleksi diklat Lesson Study yang diadakan oleh SEAQIM (SEAMEO Qitep in Mathematics) Sebuah badan pendidikan tingkat regional Asean di bidang Matematika. Saya lulus dan mendapat undangan mengikuti diklat yang  full dibiayai negara ini. Diklat dilaksanakan selama dua minggu di Jogja. Saat diklat saya bertemu dengan guru-guru hebat dari seluruh penjuru Indonesia dan guru-guru perwakilan negara Malaysia, Brunei, Thailand, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Sesi terakhir kami mengerjakan post-test. Keesokan harinya saat penutupan, saya diumumkan meraih penghargaan sebagai 1st Best Participant. Saat itu saya menangis terharu. Bagaimana tidak, peserta diklat Lesson Study adalah guru-guru pilihan yang banyak menorehkan prestasi di berbagai bidang. Ah, mengingatnya membuat saya terharu sampai saat ini. Sungguh, sayaberuntung menjadi seorang guru. Karena dengannya saya tidak berhenti belajar.

Bersama dengan 38 peserta Diklat Lesson Study

Tidak ada yang salah dengan takdir saya. Terimakasih ya Allah.. Berikan saya kemampuan mendidik generasi bangsa. Berikan saya kekuatan untuk terus belajar. Berikan saya kesabaran dalam menjalani profesi ini dengan segala rintangannya. Terakhir, berikan saya kerendahan hati untuk mau memperbaiki diri dari banyaknya kekurangan yang saya miliki. Semoga jalan ini bisa menuntun saya memasuki syurga-Nya.  Aamiin...

Comments

Popular Posts