Cerita Anak
MELA, LEO, DAN MALEO
Lintang Nawangsari
“Hey, taruh lagi telur itu!” Teriakku kencang. Telur Maleo ada di tangannya.
“Dasar penakut! Baru ditimpuk saja sudah lari! Telur ini mau Aku goreng, ya. Hahaha..”
Hmm, ternyata Leo yang tadi menimpukku. Kepalaku masih sakit. Tapi hatiku lebih sakit melihatnya mengambil telur itu dan akan menggorengnya! Sambil pulang aku menyesali mengapa telur burung tadi aku tinggal. Dengan langkah gontai aku memasuki rumah.
“Mela, kenapa wajahmu sedih?” Papa menyapaku di ruang tamu. Papa baru pulang. Papa dinas di Taman Nasional Bogani Nani Warta Bone. Didalamnya juga ada penangkaran Burung Maleo.
“Tadi Mela melihat telur gundukan tanah di kebun, Pa. Mela ingat kalau itu tanda-tanda ada telur burung Maleo seperti yang Papa bilang. Mela gali dan ambil.” Akupun menceritakan kejadian tadi..
“Semua orang di Kampung Batui ini tahu kalau Maleo itu harus dilindungi. Papa juga sudah bilang ke orang-orang agar kalau menemukan telur Maleo kasih ke Papa, agar nanti ditaruh di penangkaran. Memang Leo pang jaha!” Emosiku naik mengingat kejadian tadi.
“Huss, jangan bicara seperti itu, Nak. Mela lupa ya? Leo ‘kan baru pindah ke kampung kita setahun ini. Dulu di kota mungkin tidak pernah diberitahu kalau Maleo itu dilindungi. Oh ya, Mama tadi pesan agar Mela ke rumah Pak Aswin untuk meminta daun sirih. Mata Mama sakit. Tolong ya, Nak...”
Aku mengangguk pelan. Pak Aswin itu Papanya Leo. Sebetulnya malas aku kesana. Tapi ini pesan Mama. OK dang, aku jalan saja.
Rumah Leo sudah terlihat. Bagian depannya penuh dengan pohon buah dan tanaman obat. Sebelum Leo pindah, yang tinggal disini adalah neneknya Leo yang baik sekali pada tetangga. Ia mempersilahkan siapa saja untuk mengambil buah ataupun tanaman obatnya. Setahun yang lalu ia meninggal. Akhirnya rumah itu ditempati Leo dan keluarga. Di depan rumah terlihat Leo sedang duduk di teras. Mukanya pucat. Ayahnya ada disampingnya.
“Permisi Pak Aswin...” Aku mengucap salam kepada Pak Aswin yang sedang menyiram tanaman.
“Eh, Mela. Ada apa, Nak?
“Maaf Pak. Mama mau meminta daun sirih untuk obat mata.”
“Ah, silahkan, Nak. Ambillah sepuasmu. Ini Leo barusan sakit perut. Papa Leo juga mau petik daun obat”
“Oh. Apa karena tadi Leo makan telur Maleo, Pak? Saya melihat Leo mengambil telur Maleo di kebun.”
“Apa?? Benar itu Leo?!”
Leo mengangguk pelan.
“Astaga, Leo! Burung Maleo itu tinggal 5.000 saja dan terancam punah. Maleo itu dilindungi, Nak. Harusnya kau beri telur itu ke Papanya Mela untuk ditaruh di penangkaran. Kalau lapar bilang Mama untuk menggoreng tiga telur. Bukan malah kau goreng telur Maleo!”
Leo meminta maaf dan tersipu. Aku berharap ia tak mengulanginya lagi.
********************************************
Note:
Pang jaha = tidak baik
OK dang = OK lah


Comments
Post a Comment